Showing posts with label Sejarah Walisongo. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Walisongo. Show all posts

Sunday

Sejarah Mbah Soleh Darat

Sejarah Mbah Soleh Darat
Dalam Biografi Mbah Sholeh Darat beliau adalah Muhammad Sholeh bin Umar atau lebih masyhur dengan sebutan Mbah Sholeh Darat, adalah salah satu ulama Indonesia yang produktif menulis dan menjadi rujukan mengaji para santri dan ulama pada zamannya.

Nama lengkapnya Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani, atau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Sholeh Darat. Ayahnya Kiai Umar merupakan salah seorang pejuang dan orang kepercayaan Pangeran Diponegoro di Jawa Bagian Utara, Semarang, di samping Kiai Syada’ dan Kiai Murtadha Semarang.

Mbah Sholeh Darat dilahirkan di desa Kedung Cumpleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, sekitar 1820 M. Sedangkan informasi lainnya menyatakan bahwa, Mbah Sholeh Darat lahir di Bangsri, Jepara. Ia wafat di Semarang pada 28 Ramadhan 1321 H/18 Desember 1903 M.
Penambahan kata “Darat” pada akhir nama beliau disebabkan beliau tinggal di daerah yang bernama Darat, yaitu suatu daerah di pantai utara Semarang, tempat mendarat pelancong dari luar Jawa. Kini daerah Darat termasuk wilayah Semarang Barat. Penambahan ini adalah sesuatu yang lumrahsebagai ciri khas dari orang-orang yang terkenal di masyarakat. Seperti Mbah Kholil Bangkalan, Syeh Ihsan Jampes, Syeh Nawawi Banten, dan lain-lain

Kehidupan Rumah Tangga

Selama hayatnya, Mbah Sholeh Darat pernah menikah tiga kali. Perkawinannya yang pertama adalah ketika ia masih berada di Makkah. Tidak jelas siapa nama istrinya. Dari perkawinanya pertama ini, ia dikarunia seorang anak yang diberi nama Ibrahim.

Saat Mbah Sholeh Darat kembali ke Jawa, istrinya telah meninggal dunia dan Ibrahim tidak ikut serta ke Jawa. Ibrahim ini tidak mempunyai keturunan. Untuk mengenang anaknya (Ibrahim) yang pertama ini, Mbah Sholeh Darat menggunakan nama Abu Ibrahim dalam halaman sampul kitab tafsirnya, Faidh al-Rahman.

Pernikahannya yang kedua dengan Sofiyah, puteri Kiai Murtadha teman karib bapaknya, Kiai Umar, setelah ia kembali di Semarang. Dari pekawinan ini, Mbah Sholeh Darat dikarunia dua orang putera, Yahya dan Khalil. Dari kedua putranya ini, telah melahirkan beberapa anak dan keturunan yang bisa dijumpai hingga kini.

Sedangkan perkawinannya yang ketiga dengan Aminah, puteri Bupati Bulus, Purworejo, keturunan Arab. Dari perkawinannya ini, Beliau dikaruniai anak. Salah satu keturunannya adalah Siti Zahrah.

Siti Zahrah dijodohkan dengan Kiai Dahlan santri Mbah Sholeh Darat dari Tremas, Pacitan. Dan perkawinan ini melahirkan dua orang anak, yaitu Rahmad dan Aisyah. Kiai Dahlan meninggal di Makkah, kemudian Siti Zahrah dijodohkan dengan Kiai Amir, juga santri Mbah Sholeh sendiri asal Pekalongan. Perkawinan kedua Siti Zahrah tidak melahirkan keturunan.
Sumber  : klik Santri Pondok

Thursday

Sejarah Syekh Subakir Babat Alas Di Tanah Jawa

Sejarah Pertama Tanah Jawa
Dalam Sejarah pertama mula tanah jawa dengan kedatanganya Syeh Subakir di Tanah Jawa adalah utusan dari tanah Iran yang datang ke Tanah Jawa karena perintah dari Sultan Muhammad I (Sultan asal Turkey, tempatnya di Istanbul) 

Syeh Subakir diutus ke Tanah Jawa bersama-sama dengan Wali Songo Periode Pertama untuk menyebarkan agama Islam pertama di pulai jawa. berikut kisah asal muasal Syekh Subakir. 

Di petilasan Syekh Subakir ini tersedia mushola kecil dan pendopo. Tidak salah bila kemudian, Gunung Tidar dikenal dengan Paku Tanah Jawa. Gunung Tidar sendiri tidak bisa terpisahkan dengan pendidikan militer di Magelang.

Di Magelang menjadi salah satu tempaan para taruna AKABRI. Bahkan bukit itu menjadi salah satu ciri khas kota itu. Namanya bukit Tidar, atau lebih dikenal sebagai Gunung Tidar. Konon Gunung Tidar merupakan pusat atau titik tengah Pulau Jawa.

Syahdan, dahulu kala Tanah Jawa ini masih berupa hutan belantara yang tiada seorangpun berani tinggal di sana. Sebagian besar wiiayah Jawa ini dahuiu masih dikuasai berbagai makhluk halus. Konon Tanah Jawa yang dikelilingi laut ini bak perahu yang mudah oleng oleh ombak laut yang besar. Maka melihat itu para dewata segera mencari cara untuk mengatasinya.

Maka berkumpullah para dewa untuk membahas persoalan Tanah Jawa yang tidak pernah tenang oleh hantaman ombak itu. Diutuslah sejumlah dewa untuk tugas menenangkan pulau ini. Mereka membawa sejumlah bala tentara menuju Pulau Jawa sebelah barat. Namun, tiba-tiba Pulau Jawa kembali oleng dan berat sebelah karena para dewa dan bala tentara hanya menempati wiiayah barat. Agar seimbang, sebagian dikirim ke timur. Namun usaha ini tetap gagal.

Melihat kenyataan itu maka para dewa sibuk mencari jalan pemecahan. Setelah beberapa waktu berembug, maka didapatkanlah sebuah ide cemerlang. Mau tak mau para dewa harus menciptakan sebuah paku raksasa, dan paku itu akan ditancapkan di pusat Tanah Jawa, yaitu titik tengah yang dapat menjadikan Pulau Jawa seimbang. Paku raksasa yang ditancapkan itu konon dipercaya sebagian masyarakat sebagai Gunung Tidar. Dan setelah paku raksasa itu ditancapkan, Pulau Jawa menjadi tenang dari hantaman ombak.

Menurut kepercayaan sebagian masyarakat, Gunung Tidar pada mulanya hanya ditinggali oleh para jin dan setan yang konon dipimpin ojleh salah satu jin bemama Kiai Semar. Kiai Semar tidak sama dengan tokoh Semar dalam dunia pewayangan. Kiai Semar yang menguasai Gunung Tidar ini konon jin sakti yang'terkenal seram. Setiap ada manusia yang mencoba untuk tinggal di sekitar Gunung Tidar, maka tak segan Kiai Semar mengutus anak buahnya yang berupa raksasa-raksasa dan genderuwo untuk memangsanya.

Alkisah, datanglah seorang manusia yang terkenal berani untuk mencoba membuka wiiayah Tidar untuk ditinggali. Ksatria berani ini berasal dari tanah jauh. Konon ia berasal dari negeri Turki, bernama Syekh Subakir dan ditemani Syekh Jangkung. Kedua syekh ini disertai juga oleh tujuh pasang manusia, dengan harapan dapat mengembangkan masyarakat yang kelak mendiami wiiayah itu.

Mendengar kabar itu, Kiai Semar murka. Diseranglah mereka oleh anak buah Kiai Semar, dan tiada seorangpun yang selamat kecuali Syekh Subakir yang sakti, soleh, dan sabar. Setelah bertapa selama 40 hari 40 malam, ia bertemu dengan Kiai Semar.
“Hei, Ki Sanak, berani benar kau berada di wiiayah kekuasaanku tanpa permisi. Siapakah engkau dan apa maumu berada di wiiayah ini,” kata Kiai Semar.
“Duh penguasa wiiayah Tidar, ketahuilah olehmu bahwa namaku Syekh Subakir, asalku dari negeri Turki nun jauh di sana. Adapun kedatanganku kemari untuk membuka tempat dan aku akan tinggal di sini bersama saudara dan sahabatku,” jawab Syekh Subakir dengan tenang.

"Adakah kau tahu bahwa daerah ini adalah daerah kekuasaanku? Siapapun tak boleh tinggal di sini. Jika tiada peduli, maka akau akan mengutus anak buahku untuk menumpas kalian tanpa sisa."
“Hai engkau yang mengaku sebagai penguasa Gunung Tidar, tidakkah kau tahu bahwa tiada yang dapat melebihi kekuasaan Allah? Allah menciptakan manusia untuk menjaga dan memelihara alam semesta ini, bukan untuk menguasainya secara semena- mena," kata Syekh Subakir.
“Hei manusia, sebelum kemarahanku memuncak, tinggalkan tempat ini! Ketahuilah bahwa tempat ini sudah menjadi milikku, dan jangan mencoba merampasnya.” ancam Kiai Semar.
Syekh Subakir terdiam mendengar ancaman Kiai Semar, ia lalu mengalah. Tetapi bukan berarti ia menyerah kalah. Tetapi sebaliknya Syekh Subakir hendak menyiapkan diri lebih baik untuk mengalahkan Kiai Semar dan bala tentaranya. la pulang ke negeri asalnya.
Sesampai di negeri Turki, ia mengambil sebuah tombak sakti yang bernama Kiai Panjang. Selain itu, iapun menyiapkan lebih banyak lagi manusia yang akan diajak serta untuk membuka tempattinggal baru di Tidar.
Sesampai kembali di Tidar, berpasang-pasang manusia yang diajak serta oleh Syekh Bakir tinggal lebih dulu di daerah sebelah timur Gunung Tidar yang sekarang dikenal dengan nama desa Trunan. Konon desa itu berasal dari makna “turunan". Ada yang mengatakan arti dari turunan itu adalah keturunan, tetapi ada yang menganggapnya sebagai daerah pertama kali sahabat-sahabat Syekh Bakir diturunkan dan tinggal di tempat itu untuk sementara waktu.
Setelah itu Syekh Bakir berangkat sendiri ke puncak Gunung Tidar untuk bersemadi. Tombak pusaka sakti Syekh Bakir ditancapkan tepat di puncak Tidar sebagai penolak bala. Dan benar, tombak sakti itu menciptakan hawa panas yang bukan main bagi Kiai Semar dan wadyabalanya.
Merekapun lari tunggang langgang meninggalkan Gunung Tidar. Kiai Semar dan sebagian tentaranya melarikan diri ke timur dan konon hingga sekarang menempati daerah Gunung Merapi yang masih dipercaya sebagian masyarakat sebagai wiiayah yang angker. Bahkan sebagian lagi anak buah Kiai Semar ada yang melarikan diri ke alas Roban, bahkan ke Gunung Srandil. Tombak itu sekarang masih dijaga oleh masyarakat dan dimakamkan di puncak Gunung Tidar dengan nama Makam Tombak Kiai Panjang.
Dengan adanya tombak sakti itu, maka amanlah Gunung Tidar dari kekuasaan para jin dan makhluk halus. Syekh Bakirpun akhirnya memboyong sahabat- sahabatnya untuk membuka tempat tinggal baru di Gunung Tidar dan sekitarnya.

Versi lainnya tentang Syekh Subakir adalah pada waktu Sultan Muhamad 1 memerintah kerajaan Turki, beliau menanyakan perkembangan agama Islam kepada para pedagang dari Gujarat (India). Dari mereka Sultan mendapat kabar berita bahwa di Pulau Jawa ada dua kerajaan Hindu yaitu Majapahit dan Pajajaran. Di antara rakyatnya ada yang beragama Islam tapi hanya terbatas pada keluarga pedagang Gujarat yang kawin dengan para penduduk pribumi yaitu di kota-kota pelabuhan.

Sang Sultan kemudian mengirim surat kepada para pembesar Islam di Afrika Utara dan Timur Tengah. Isinya meminta para para ulama’ yang mempunyai karomah untuk dikirim kepulau Jawa. Maka terkumpullah sembilan ulama berilmu tinggi serta mempunyai karomah.
Pada tahun 808 Hijrah atau 1404 Masehi para ulama itu berangkat ke Pulau Jawa. Di antara para ulama yang berilmu tinggi itu ada yang bemama Syekh subakir, ia dikenal sebagai pakar rukyah (penakluk dan pengusir jin yang mengganggu manusia).
Sumber cerita ini menyebutkan bahwa Pulau jawa pada waktu itu sangat anker. Pulau Jawa dihuni oleh bangsa makhluk halus berupa dedemit, jin-jin, periprayangan bekasaan, kemangmang, banaspati, genderuwo, jangkitan, kuntillanak dan masir banyak lagi sejenisnya.
Dan telah diceritakan pula, bahwa sang Sultan Rum ( teks asli Ngerum sekarang Turki, telah mengetahuinya dan mendapat bisikan ( ilham ) dari Tuhan mendapat perintah untuk mengisi pulau itu dengan manusia. Setelah itu sang Sultan memanggil Patihnya, maka datanglah Sang Mahapatih di hadapanya. baginda Sultar berkata: " Hai Patih ...! Aku akan bertanya padamu yang sesungguhnya. Apakar benar berita tentang pulau jawa itu, apa kamu sudah tahu? Katanya masih sepi dar belum ada manusianya, pulau itu masih hutan belantara?"
” Benar sekali tuanku, sungguh belum ada manusiannya, beritanya para nakoda yang sering mengarungi samudra berlayar ke sumbawa melewati pulau jawa iti tuanku, pulau itu membujur dari barat ke timur terletak disebelah baratnya pulau Bai dan banyak terdapat gunung. menurut “jawab Sang Patih.
Baginda Sultan berkata dengan pelan:"Hai Patih! Kamu bawalah dua leksa orang kepala keluarga, cepat tempatkan di tanah jawa agar mereka bertani dar perbekali dengan alat-alat pertanian!".
Demikianlah sang Mahapatih segera mencari orang-orang pilihan dan bergega: mempersiapkan perlengkapannya. Setelah membayar ongkos pelayaran dan telar siaga, dengan mengendarai perahu lantas berangkatlah sang patih bersama 40.00C orang dengan cepat. Rum atau Turki adalah wilayah eropa timur, tak terkirakan berapa jauh perjalnan yang ditempuh menuju Pulau Jawa. Berbagai hambatan dan rintangar mereka lalui hingga akhirnya sampai di Pulau Jawa.
40.000 orang yang terdiri dari 20.000 pasangan suami istri itu ditempatkan d Pulau Jawa. Sementara sang Mahapatih kembali pulang ke negeri Rum. Namun apa yang terjadi? 40.000 orang itu ternyata banyak yang mati, konon karena diteluh ata. dimakan oleh segela lelmbut atau makhluk halus. Yang tersisa hanya 40 oranc Mereka akhirnya meninggalkan Pulau Jawa, berlayar kembali ke negeri Rum.

Setelah sampai di negeri Rum, mereka dihadapkan kepada Baginda Sultan. Dan melaporkan sendiri kejadian yang menimpa rekan-rekannya Kami banyak yang mati dimakan dedemit, jin dan bangsa sejenisnya."
Sang Sultan kemudian memanggil seorang ulama besar yang dikenal sebaga ahli rukyah dan ahli ekologi lingkungan, namanya Syekh Subakir yang memiliki gels Syekh Maulana. Ulama ini sangat disegani dan dihormati oleh rakyat, bahkan baginda Sultan sendiri menaruh hormat kepadanya.
Setelah Syekh Subakir datang menghadap maka berkatalah sang Baginda Sultan,"Wahai Tuan Syekh Maulana....saya sudah memberi tugas kepada Patih tapi telah gagal. Sekarang Tuanlah yang saya tunjuk, pergilah ke Pulau Jawa yang terkenal angker itu. Pasanglah tumbal, tempatkan di gunung yang terletak di tengah-tengah pulau Jawa supaya bangsa halus yang memakan manusia itu pergi. Dan bawalah orang Keling agar mereka menetap tinggal di Pulau Jawa. Jangan lupa lengkapi mereka dengan persenjataan."
Sang Mahapatih mendapat titah untuk mempersiapkan segala keperluan perjalanan Syekh Subakir ke Pulau Jawa. Dalam pelayaran itu Syekh Subakir singgah di Tanah Hindustan (India). Di sana ia mengambil 20.000 orang Keling, lalu meneruskan perjalanan ke Pulau Jawa.
Rombongan Syekh Subakir datang di Pulau Jawa, sebagai orang yang waskita ia tahu bahwa pusat segala bangsa lelembut adalah di gunung Tidar, maka ia langsung menuju ke gunung paling angker itu.
Dengan membawa batu hitam yang sudah dirukyat ia mengelilingi gunung itu. Batu dipasang merata di segala penjuru, kegiatan ini oleh orang Jawa dinamakan memberi tumbal atau menumbal tanah.
Pengaruh kekuatan tumbal itu demikian dahsyat, dalam tempo yang tidak begitu lama terjadilah keributan besar, situasi alam berubah total, cuaca yang tadinya cerah, berubah menjadi gelap, angin yang tadinya berembus pelan dan sejuk berubah menjadi kencang, topan menebas semua yang ada, kilat menyambar-nyambar, gemlegar suara halilintar, hujan api, gemuruh suara gunung dahsyat sekali, api berteberan ke mana-mana.
Sekitar tiga hari tiga malam peristiwa dahsyat yang menggemparkan itu berlangsung. Bangsa lelembut setan-setan dan siluman lari menyelamatkan diri karena kepanasan oleh daya ghaib rukyat Syekh Subakir. Banaspati hanyut mengikuti arusair, ilulujangkitan lari tunggang langgang. Jin, periprayangan.mengungsi di lautan , bekasaan, kemangmang, banaspati, genderuwo, jangkitan, kuntillanak hanyut semua hanyut dalam air karena tak kuat menahan panas.
Setelah peristiwa menggemparkan itu alam menjadi tenang kembali sunyi senyap, pengap dan gelap gulita meliputi cuaca langit Pulau Jawa, cahaya matahari tak tembus seakan matahari berhenti bersinar.
Al-Kisah ada dua dahyang di Tanah Jawa, keduanya sesepuhnya jaman di Tanah Jawa, yang mengemban pulau jawa, Sang Hyang Semar sebutanya, dan yang satunya lagi Sang Hyang Togog. Dahnyang itu berkedudukan di gunung, kaki gunung sebagai padepokannya. Dan telah lama sekali tinggal disitu.
Demikian itu yang telah disebutkan, entah kemana Sang Togog waktu kejadian itu, hingga Sang Semar berkata: “Kakang Togog dimana engkau? Telah terjadi keributan, kejadian hujan api menghujani bumi menjadikan penghuninya porak poranda dan menjadikan berkurang dan terpisah pisah. Bumi bergelimpangan mayat tersambar petir. kilat menyambuk angkasa membakar bumi dengan jilatannya, suara guntur menggelegardiangkasa, gemuruh suara gunung yang bergetar!"
Entah dari mana datangnya suara tiba-tiba sang Togog menjawab: "aku disini, aku tak tahu penyebabnya, bukankah kamu lebih tahu?!"
Sang Semar memberikan kabar padanya: “jika engkau tidak tahu, yaitu ada utusan dari Rum datang ke tanah jawa membuat rusaknya demit, tumbalnya di pasang merata di gunung, mari kita kesana menjumpai sang resi utusan itu! dia diperintah sang Sultan untuk menenung semua demit, aku akan menuntut pada pendeta Rum itu, tentang banyak Bekasaan yang hanyut serta hiruk pikuk buyarnya semua lelembut”.
Sang Hyang Togog mencegahnya; “Hai Adik jangan dijumpai!"
Temyata keduanya berangkat juga untuk menemui sang resi dari Rum itu, diperjalanan tidak di ceritakan, setelah sampai dihadapan Syekh Subakir yang berada di gunung tidar, dia berkata “Tuan Subakir, sebagai pendeta kenapa tuan datang kesini membuat kerusakan?"
Syekh Subakir dengan perlahan berkata: "Kisanak ... kau ini siapa? keluar dari mana kisanak berdua? kok baru kali ini aku melihatmu? lantas apa yang kisanak inginkan sampai datang kepadaku?".
Sang Hyang Semar perlahan juga menjawab: “ya saya ini orang jawa, saya ingin bertemu tuan".
Syekh Subakir berkata: “Beritanya Tanah Jawa tempat yang belum ada manusianya, tempat yang masih hutan belantara”.
Sang Semar lansung menyangkalnya: “Nyatanya saya orang jawa, saya ada sebelum tuan datang, kami menduduki dan menetap di pucuk-pucuk gunung sudah mencapai 9.000 tahun dan kami berada di gunung tidar selama 1.001 tahun".
Sang pendeta heran mendengarnya, "Hai kamu ini bangsa apa? apakah kamu ini sungguh-sungguh manusia? umurmu panjangnya bukan main, sedangkan saya belum pernah tahu orang yang umurnya mencapai 1.000 tahun, umurmu lebih panjang dari Nabi Adam AS, hai kisanakl mengakulah! berterusteranglah padaku, rupanya kamu bukan manusia hingga umurmu melebihi umur Nabi Adam, wah umurmu sangat panjang, jika kamu manusia tak ada manusia yang umurnya mencapai 1.000 tahun!?".
Sang Semar berkata: “sesungguhnya saya ini bukan manusia, sayalah Dahnyang Tanah Jawa yang paling tua, putranya Dewi Dewi, yang disebut Manik Maya ya saya ini, Sang Hyang Syist ya saya ini, Dahnyang Teritoti ya saya ini, Rekanaya ya saya, Sang Hyang Ening itu namaku, sedangkan Jaya Kusuma itu Rajaku, serta Ki Joko Pendek Angtek-angtek Kucing Gati ya sayalah yang disebut Sang Hyang Semar.
Saya kesini sudah lama sekali dari Ibu Hawa, dulu Ibu Hawa melahirkan benihnya dan diambil (diadopsi) serta di rawat oleh sang Idajil, benih itu tak berbentuk dan di cipta di bentuknya sedemikian rupa dan dicampur dengan maninya, maka jadilah hamba ini.
Jika tuan belum tahu, ya ini wujudnya badan hamba, seluruh Dahnyang semua keturunan hamba, maka seluruh Dahnyang itu ada di seberang Tanah Jawa, jin prahyangan dan peri serta kebanyakan lelembut ya turun saya, semua menguasai tempat-tempatyang wingit (angker), llulu Jangkitan buyut saya, sedangkan Ki Rogo titisannya burung Senhari.
Hamba bersama dengan saudara tua hamba, bertempat di Tanah Jawa, maka hamba kesini untuk bertemu dengan paduka tuan ingin tanya yang sesungguhnya. mengapa tuan sebagai sang pendeta membuat kerusakan semua anak cucu hamba? mereka semua hanyut di sungai sampai kelautan, terkapar kena tenung. ternyata kamu yang membunuhnya! sisanya kebanyakan para lelembut mengungsi dilautan”.
Sang Pendeta perlahan berkata: “Hai kisanak aku ini diutus kanjeng sultan Rum Rajaku, maka aku disuruh mengisi manusia di pulau jawa, supaya berladang. bersawah membuka hutan belantara, yang kutempatkan ini orang negeri Rum. banyaknya 2000 orang berkeluarga, itu sudah kehendak Tuhan, tidak bisa jika menghalanginya".
Sang Hyang Semar perlahan berkata: "sukurlah jika itu kehendak Sultan di Rum, Sri Raja sendiri yang menyatakan mengisi manusia di Tanah Jawa, menyuruh membuka hutan, karena baginda sendiri juga turun saya, semua itu terjadi pads TaqdirTanah Jawa.
Syekh Subakir berkata: “Nanti aku beri tahu kehendak Yang Maha Agung serta Mulia, dan jalannyaTanah Jawa. “
Selanjutnya Syekh Subakir membeberkan ramalan tentang kejadian di masa yang akan datang mengenai raja-raja penguasa Tanah Jawa hingga nanti saa'.
tenggelamnya Pulau Jawa. Mengapa Pulau Jawa tenggelam? Konon hal ini untuk menyelamatkan ummat Islam di Pulau Jawa, karena Dajjal nantinya mampu menghidupkan orang mati dan menjadikan orang tersebut kafir. Jika Pulau Jawa ditenggelamkan sang Dajjal yang hanya punya mata sebelah itu tidak akan mampu melihat penghuni Pulau Jawa, karena Pulau Jawa sudah rata dengan lautan.
Mengenai Ramalan Raja-raja Pulau Jawa dan situasi penduduk Pulau Jawa yang disampaikan Syekh Subakir hampir sama dengan Ramalan Jayabaya yang sesungguhnya ditulis oleh Sunan Giri Prapen (Sunan Giri ke 3).
Ketika Syaikh Subakir sampai di tanah Jawa, beliau bergelar Aji Saka. Beliau lahir di Persia, Iran. Memiliki spesialisasi di bidang Ekologi Islam. Beliau adalah cicit dari sahabat Nabi Muhammad saw, yaitu Salman Al-Farisi. Kemudian beliau menjadi utusan dari Sultan Muhammad 1, sebagai salah satu dari anggota Wali Songo periode. 1. Nasab lengkap beliau adalah Syaikh Subakir bin Abdulloh bin Aly bin Ahmad bin Aly binAhmad binAbdulloh binAhmad bin Muhammad bin Ahmad bin Aly binAbubakarbin Salman bin Hasyim binAhmad bin Badrudin bin Barkatulloh bin Syafiq bin Badrudin bin Omar bin Aly bin Salman Alfarisiy
Syaikh Subakir berdakwah di daerah Magelang Jawa Tengah, dan menjadikan Gunung Tidar sebagai Pesantrennya. Syaikh Subakir memiliki keahlian di bidang Ekologi Islam. Artinya, Syaikh Subakir sangat perduli terhadap lingkungan, dan fenomena-fenomena alam semesta. Para ahli sejarah babad Tanah Jawa melakukan kesalahan yang sangat mendasar dan merusak Aqidah dan Syariat Islam, yaitu menyebut Syaikh Subakir sebagai ahli memasang tumbal untuk mengusir roh-roh jahat. Kesalahan sejarah terhadap Syaikh Subakir ini akhirnya melegenda, dan menjadi cerita yang penuh dengan mitos, takhayyul dan khurafat.
Syaikh Subakir adalah Pemerhati lingkungan dan alam semesta. Sebagai pakar dalam bidang ekologi, beliau banyak sekali membaca fenomena-fenomena alam terutama bidang Mountainologi, yaitu ilmu tentang Gunung Berapi. Kalau dalam sains modem, beliaulah ahli Meteorologi dan Geofisika. Karena pemahaman awam yang belum sampai kepada sains modern, seperti ilmu ekologi, meteorologi dan geofisika ini, maka setiap Syaikh Subakir mengadakan penelitian intensif di beberapa Gunung Berapi. Orang awam berasumsi bahwa Syaikh Subakir sedang memasang tumbal atau jimat. Akhirnya opini masyarakat awam ini menyebar dari mulut satu ke mulut yang lain. Dan oleh dukun-dukun atau paranormal, cerita tersebut dibumbui dengan takhayyul dan khurafat.
Melihat kenyataan masyarakat yang awam tersebut, Syaikh Subakir berulang kali menerangkan kepada masyarakat, bahwa dirinya adalah peneliti lingkungan, dan mentadabburi alam semesta, agar kita bertambah takwa dan mensyukuri nikmat ini kepada Allah SWT. Namun sekali lagi kefanatikan masyarakat awam ini terhadap Syaikh Subakir membuat legenda yang dibumbui cerita-cerita yang mengarah kepada perbuatan syirik.

Akhirnya, untuk melepaskan kefanatikan masyarakat umum terhadap Syaikh Subakir ini dan untuk menjaga Aqidah umat Islam. Maka pada tahun 1462 Masehi, Syaikh Subakir pulang ke Persia, Iran. Agar kefanatikan tersebut runtuh, dan masyarakat awam kembali kepada tauhid yang benar. Dan selanjutnya posisi Syaikh Subakir digantikan oleh muridnya yang juga ahli di bidang Ekologi, Meteorologi dan Geofisika, serta ahli pertanian dan arsitek masjid yaitu Sunan Kalijaga. 

Syaikh Subakir meninggal di Persia Iran. Sedangkan yang ada di Indonesia dan di Ziarahi oleh masyarakat adalah situs-situs peninggalannya.

Monday

Sejarah Dan Kisah Sunan Muria Menjadi Wali Songo



Sejarah Sunan Muria Lengkap
Sunan Muria - yang memiliki nama asli Raden Umar Said adalah putra Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh. Nama Muria diambil dari nama tempat tinggal terakhir beliau di lereng Gunung Muria, kira-kira delapan belas kilometer ke utara Kota Kudus. 

Dalam berdakwah beliau menggunakan cara halus, ibarat mengambil ikan tidak sampai mengeruhkan airnya. Itulah cara yang ditempuh untuk menyiarkan agama Islam di sekitar Gunung Muria. Makam Sunan Muria terletak di Puncak Colo Gunung Muria. Tempat wisata religi api di Kabupaten Kudus. Lansekap juga cantik.  

Baca Juga : Tempat Ziarah Makam Wali 9 

Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam.

Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya.
 

Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.



Kesaktian Sunan Muria. 

Bukti bahwa sunan muria adalah guru yang sakti mandraguna dapat ditemukan dalam kisah perkawinan sunan muria dengan dewi Roroyono. Dewi Roroyono adalah putri Ngerang, yaitu seorang ulama yang disegani masyarakat karena ketinggian ilmunya, yang bertempat tinggal di juana, pati jawa tengah. Demikian sakti sunan ngerang sehingga sunan muria dan sunan kudus sampai berguru kepadanya. 

Beliau memiliki ilmu yang dapat mengembalikan serangan dari lawannya. Itu terjadi ketika Kapa adik seperguruan beliau yang telah menculik istri sunan muria menyerang sunan muria dengan mengerahkan aji pamungkas. Namun serangan itu berbalik menghantam dirinya sendiri sehingga merenggut nyawanya. 

Makam Sunan Muria.

Sunan Muria dimakamkan di atas puncak bukit bernama bukit Muria. Dari pintu gerbang masih naik lewat beratus tangga (undhagan) menuju ke komplek makam-nya, yang terletak persis di belakang Masjid Sunan Muria. Mulai naik dari pintu gerbang pertama paling bawah hingga sampai pelataran Masjid jaraknya kurang lebih 750 meter jauhnya. 

Setelah kita memasuki pintu gerbang makam, tampak di hadapan kita pelataran makam yang dipenuhi oleh 17 batu nisan. Menurut Juru Kunci makam, itu adalah makamnya para prajurit dan pada punggawa (orang-orang terdekat, ajudan dan semacam Patih dalam Keraton). 

Di batas utara pelataran ini berdiri bangunan cungkup makam beratapkan sirap dua tingkat. Di dalamnya terdapat makamnya Sunan Muria. Di sampingnya sebelah timur, ada nisan yang konon makamnya puterinya perempuan bernama Raden Ayu Nasiki. 

Dan tepat di sebelah barat dinding belakang masjid Muria, sebelah selatan mihrab terdapat makamnya Panembahan Pengulu Jogodipo, yang menurut keterangannya Juru Kunci adalah putera sulungnya Sunan Muria.

Sejarah Sunan Drajat [ Walisongo]

Sejarah Sunan Drajat-Walisongo
Sunan Drajat Nama kecilnya Raden Qosim. Ia anak Sunan Ampel. Dengan demikian ia bersaudara dengan Sunan Bonang. Diperkirakan Sunan Drajat yang bergelar Raden Syaifuddin ini lahir pada tahun 1470 M. Sunan Drajat mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui laut. Ia kemudian terdampar di Dusun Jelog –pesisir Banjarwati atau Lamongan sekarang. Tapi setahun berikutnya Sunan Drajat berpindah 1 kilometer ke selatan dan mendirikan padepokan santri Dalem Duwur, yang kini bernama Desa Drajat, Paciran-Lamongan.



Sunan Drajat menghabiskan masa kanak-kanak dan remajanya di kampung halamannya di Ampel Denta, Surabaya. Setelah dewasa, beliau diperintahkan oleh ayahandanya, Sunan Ampel, untuk berdakwah ke pesisir barat Gresik. Maka, berlayarlah Sunan Drajat. Dari Surabaya, dengan menumpang biduk nelayan. Di tengah perjalananannya, perahu yang ditumpangi Sunan drajat terseret badai dan kemudian pecah dihantam ombak di daerah Lamongan, sebelah barat Gresik. Sunan Drajat selamat dengan berpegangan pada dayung perahu. Selanjutnya, beliau ditolong oleh ikan cucut dan ikan talang (ada juga yang menyebut ikan cakalang). Dengan menunggang pada kedua ikan tersebut, Sunan Drajat berhasil mendarat di sebuah tempat yang kemudian dikenal sebagai Kampung Jelak, Banjarwati. Berdasarkan sejarah, peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1485 Masehi. Di sana, Sunan Drajat disambut baik oleh tetua kampung bernama Mbah dan Mbah Mayang Madu.

Dua tokoh tersebut sudah diislamkan oleh pendakwah asal Surabaya, yang juga terdampar di tempat itu beberapa tahun sebelumnya. Sunan Drajat lantas menetap di Jelak, dan menikah dengan Kemuning, putri dari Mbah Mayang Madu. Di Jelak, Raden Qasim kemudian mendirikan sebuah surau, dan akhirnya menjadi pesantren tempat mengaji ratusan penduduk. Jelak, yang mulanya hanyalah dusun kecil yang terpencil, lama kelamaan tumbuh menjadi kampung yang besar dan ramai. Namanya pun berubah menjadi Banjaranyar. 3 tahun kemudian, Sunan Drajat pindah ke selatan, sekitar satu kilometer dari Jelak, menuju tempat yang lebih tinggi dan terbebas dari banjir pada musim hujan. Tempat tersebut kemudian  dinamai Desa Drajat. Dari sinilah beliau mulai mendapatkan gelar Sunan Drajat.


Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil cara ayahnya: langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Meskipun demikian, cara penyampaiannya mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan Sunan Muria. Terutama seni suluk. Maka ia menggubah sejumlah suluk, di antaranya adalah suluk petuah “berilah tongkat pada si buta/beri makan pada yang lapar/beri pakaian pada yang telanjang’.

Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang bersahaja yang suka menolong. Di pondok pesantrennya, ia banyak memelihara anak-anak yatim-piatu dan fakir miskin.