Showing posts with label Syeh Abdul Qadir Jailani. Show all posts
Showing posts with label Syeh Abdul Qadir Jailani. Show all posts

Sunday

Karomah Membaca Manaqib Syeh Abdul Qadir Jailani



MARTIZAINFO. Artikel kali ini membahas tentang hikmah membaca Manaqib Syeh Abdul Qadir Jailani, dimana bacaan manaqib ini diyakini para murid toriqoh dengan membaca manaqib akan memiliki banyak keutamaan.

Apa itu Manaqib?.. Manaqib bisa diartikan “riwayat hidup” yang berhubungan dengan sejarah kehidupan orang orang besar atau tokoh tokoh penting seperti biodata tentang kelahirannya, silsilah keturunanya, kegiatan dan perjuanganya, guru gurunya, sifat sifatnya dan ahlak pribadinya dalam hal ini Syeh Abdul Qadir Jailani.
Baca Juga : Biografi Syeh Abdul Qadir Jailani
Manaqiban Sudah menjadi budaya bagi orang-orang ahlu toriqoh untuk membaca manaqib sebagai rasa cinta kepada seorang mursyid dan untuk di tauladani ahlak ahlak para guru gurunya, dalam pembacaan manaqib harus terlebih dahulu diawali dengan khadloroh dan kemudian membaca tahlil bersama-sama, pemimpin atau yang membaca manaqib baru memulai membaca manaqib dengan beberapa membaca sholawat Nabi.



Hukum Membaca Manaqib-an


Membaca dan mendengarkan manaqiban, mempelajari atau mengetahui segala sesuatu dengan kehidupan riwayat hidup seorang tokoh  - tokoh sahabat nabi Muhamad SAW, para ulama Tabi’iin, Ulama Mujahidin, dan Parawaliyullah dan lain lainya dengan tujuan untuk di petik dan dijadikan pelajaran dan contoh unsur keteladdananya yang baik adalah sangat besar Faidah dan manfaatnya dan termasuk dianjurkan Agama.

Sebagai  mana dalam al-Qur’an surat Yusuf , ayat 111
 لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

Yang Artinya : Sesungguhnya pada kisah mereka mengandung suri keteladanan bagi orang orang yang berakal”

Dari uraian diatas dengan rasa cinta dan ingin kita mensuritauladani mereka orang orang soleh maka membaca manaqib ( riwayat orang orang soleh ) boleh saja, dalam hal ini pembacaan manaqib syeh abdul qadir jailani kita ingin mengenal beliau supaya kita bisa mengikuti amalan amalan soleh beliau.

Sedangkan salah satu hal yang bisa menambah rasa kecintaan kita kepada para wali adalah dengan membaca manaqibnya. Dengan membaca manaqibnya kita bisa mengetahui kesalehan dan kebaikannya, dan hal ini tentunya akan menambah kecintaan kita kepadanya.  

Dari sini dapat kita pahami bahwa membaca manaqib Syaikh Abdul Qadir Jilani itu sangat baik. Karena akan menambah kecintaan kita kepada beliau, yang notebenenya adalah salah seorang wali Allah, bahkan beliau disemati gelar sebagai sulthan al-awliya` atau pemimpin para wali. 

اِعْلَمْ يَنْبَغِي لِكُلِّ مُسْلِمٍ طَالِبِ الْفَضْلِ وَالْخَيْرَاتِ أَنْ يَلْتَمِسَ الْبَرَكَاتِ وَالنَّفَحَاتِ وَاسْتِجَابَةَ الدُّعَاءِ وَنُزُوْلِ الرَّحْمَاتِ فِيْ حَضَرَاتِ اْلأَوْلِيَآءِ فِيْ مَجَالِسِهِمْ وَجَمْعِهِمْ أَحْيَاءً وَأَمْوَاتًا وَعِنْدَ قُبُوْرِهِمْ وَحَالَ ذِكْرِهِمْ وَعِنْدَ كَثْرَةِ الْجُمُوْعِ فِيْ زِيَارَاتِهِمْ وَعِنْدَ مُذَاكَرَاتِ فَضْلِهِمْ وَنَشْرِ مَنَاقِبِهِمْ

“Ketahuilah! Seyogyanya bagi setiap muslim yang mencari keutamaan dan kebaikan, agar ia mencari berkah dan anugrah, terkabulnya doa dan turunnya rahmat di depan para wali, di majelis-majelis dan kumpulan mereka, baik yang masih hidup ataupun sudah mati, di kuburan mereka, ketika mengingat mereka, dan ketika banyak orang berkumpul dalam berziarah kepada mereka, serta ketika mengingat keutamaan mereka, dan pembacaan riwayat hidup mereka”. (Alawi al-Haddad, Mishbah al-Anam wa Jala` azh-Zhulam, Istanbul-Maktabah al-Haqiqah, 1992 M, h. 90)


Sedangkan mengenai suguhan makanan baik sebelum atau setelah manaqiban pada dasarnya merupakan penghormatan kepada para tamu yang diundang. Dengan kata lain, penyuguhan itu dalam rangka memuliakan tamu, sedangkan kita dianjurkan memulianan tamu. Karena memuliakanntamu termasuk salah satu tanda dari kesempurnaan atau benarnya keimanan kita. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah saw; “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir (dengan iman yang sempurna) maka hendaknya ia memuliakan tamunya” (H.R. Bukhari-Muslim).

رَغَّبَ الإْسْلاَمُ فِي كَرَامَةِ الضَّيْفِ وَعَدَّهَا مِنْ أَمَارَاتِ صِدْقِ الإْيمَانِ ، فَقَدْ وَرَدَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَال : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآْخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ


“Islam sangat menganjurkan kepada umatnya untuk memuliakan tamu, dan mengkategorikan pemulian kepada tamu sebagai salah satu tanda benarnya keimanan. Sungguh, Nabi saw telah bersabda; ‘Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir (dengan iman yang sempurna) maka hendaknya ia memuliakan tamunya” (Lihat, Wizarah al-Awqaf wa asy-Syu`un al-Islamiyyah-Kuwait, al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, Mesir-Mathabi` Dar ash-Shafwah, cet ke-1, juz, 24, h. 218)

Itulah sekilas tentang manaqiban mudah - mudahan kita jadi tau apa itu manaqiban sendiri yang selalu diamalkan orang orang ahlu toriqoh / yang mengikuti toriqoh

Saturday

Biografi Silsilah Syeh Abdul Qadir Jailani

Biografi silsilah Syeh Abdul Qadir Jailani
MARTIZAINFO_ Syeh Abdul Qadir Jailani di lahirkan pada hari Rabu tanggal 1 Ramadan di 470 H, 1077 M selatan Laut Kaspia yang sekarang menjadi Provinsi Mazandaran di Iran. Ia wafat pada hari Sabtu malam, setelah magrib, pada tanggal 9 Rabiul akhir di daerah Babul Azaj, wafat di Baghdad pada 561 H/1166 M.

Dalam silsilah syeh Abdul Qadir jailani beliau adalah keturunan Rasulullah, Dari nasab ayahnya beliau yaitu syeh abdul qadir jailani putra al imam sayid abi saleh janaki daosti, putra al imam sayid abdillah, putra al imam sayid yahya az azahid, putra al imam sayid muhamad, putra al imam sayid daud, putra al imam sayid musa al jun, putra al imam sayid abdilah al mahdi putra al imam sayid hasan al mutsana putra al imam sayid hasan as sibthi, putra alimam sayyidina ali bin abi thalib.
Adapun nasab beliau syeh abdul qadir jailani dari nasab ibu yaitu : sayidah ummi khoer amatil jabar fatimah, putri sayid abdillah al suma'i az zahid putra sayid abi jamaludin muhamad putra sayid mahmud, putra sayid abul athoi abdillah putra sayid kamaludin isa, putra sayid imam alauddin muhamad al jawad  putra sayid imam ali ar ridha putra sayid imam musa al kadzim, putra imam ja'far sidiq putra imam al baqir putra imam zainal abidin ali  , putra imam husein sayid karbala putra imam ali ibn abi thalib karamallahu wajhah.

Syeh Abdul Qadir jailani terkenal sebagai pribadi yang teguh dalam berprinsip sang pencari sejati, dan penyuara kebenaran kepada siapapun, usianya dihabiskan untuk menekuni jalan tasawuf.

Sehinga Syeh Abdul Qadir mengalami pengalaman spritual dasyat yang mempengaruhi keseluruhan hidupnya, sampai pada puncaknya setan menguji syeh abdul qadir dan di hadapan beliau setan mengaku dirinya Tuhan. Tetapi syeh abdul qadir mengetahu tipu daya syetan yang terkutuk itu ahirnya setan menjadi asap hitam tak mampu meperdayai syeh abdul qadir jailani.

Wasiat Syeh abdul qadir kepada putranya.
Beliau Selain mewarisi banyak karya tulisan, Syekh Abdul Qadir meninggalkan beberapa buah nasehat menjelang kewafatannya. Akhir hayat Syekh didahului dengan kondisi kesehatannya yang terus menurun. Kala itu putra-putranya menghampiri dan mengajukan sejumlah pertanyaan.

”Berilah aku wasiat, wahai ayahku. Apa yang harus aku kerjakan sepergian ayah nanti?” tanya putra sulungnya, Abdul Wahab.

”Engkau harus senantiasa bertaqwa kepada Allah. Jangan takut kepada siapapun, kecuali Allah. Setiap kebutuhan mintalah kepada-Nya. Jangan berpegang selain kepada tali-Nya. Carilah segalanya dari Allah,” jawab sang ayah.

”Aku diumpamakan seperti batang yang tanpa kulit,” sambung Syekh Abdul Qadir. ”Menjauhlah kalian dari sisiku sebab yang bersamamu itu hanyalah tubuh lahiriah saja, sementara selain kalian, aku bersama dengan batinku.”

Putra lainnya, Abdul Azis, bertanya tentang keadaannya. ”Jangan bertanya tentang apapun dan siapapun kepadaku. Aku sedang kembali dalam ilmu Allah,” sahut Syekh Abdul Qadir.

Itulah perjalanan sejarah singkat Waliyullah, Wali Khutub Syeh Abdul Qadir Al Jailani, mudah mudahan menambah mahabah kita kepada beliau kelak kita bisa bersamanya. Aamiin

Thursday

Nasihat Syeh Abdul Qadir Jailany

Nasihat Syeh Abdul Qadir Jailany RA
Martizainfo_ artikel berikutnya membahas dengan mengkutip pesan - pesan Syeh Abdul Qadir Jailani untuk kita jadikan pelajaran yang besar dalam amalan amalan sehari hari, mudah - mudahan kita bisa mengamalkanya.


Dalam Risalah Keenam Puluh Lima

Beliau menyampaikan dalam risalhnya

Janganlah marah kepada Tuhan sebab do’a do’a mu belum diterima,


“ kenapa marah pada Tuhan, karena do’a do’a belum di terima? Kau bilang bahwa tak boleh meminta kepada orang, dan diperintahkan meminta kepada-Nya, tapi memohon kepada-Nya tak di kabulkan-Nya. Jawabku: Bebas atau terikatkah engkau? Jika berkata bahwa kau seorang bebas, berarti kau tak beriman. Jika kau bilang bahwa kau seorang budak, ku bertany, salahkah Tuhan menunda penerimaan do’amu. Ragukah kau akan kearifan  dan kasih-Nya kepadamu dan kepada seluruh ciptaan, dan akan pengetahuan-Nya tentang segala hal mereka? Kau salahkan Dia? Jika kau tak menyalahkan-Nya dan menerima kearifan-Nya dalam menangguhkan penerima do’amu, maka wajib bagi mu bersyukur kepada-Nya , sebab ia telah memilihkan yang terbaik bagimu. Jika kau salahkan Dia, berarti kau tak beriman, sebab kau menisbatkan kepda-Nya ke tak adilan , dan mustahil- Dia tak adil. Ingat Dia adalah pemilikmu,  pemilik segalahnya. Sang pemilik berkuasa penuh atas milik-Nya. Maka ketak adilan tak layak bagi-Nya. Sebab ketak adilan ialah keikut campuran dalam milikan orang lain, tanpa seizing pemiliknya.


Nah jangan kesal terhadap-Nya, karena kehendak-Nya yang wujud melaluimu meski tak kau sukai dan , secara lahiriah, merugikanmu, maka wajib bagimu bersyukur , bersabar, ridha kepada-Nya dan membuang kekesalan dan ketakpatuhan benak dan kedirianmu- hal hal yang akan menyesatkanmu dari  jalan Allah , wajib pula bagimu senantiasa berdo’a  berbaik sangka terhadap-Nya menanti saat saat yang baik, yakin akan janjii-Nya, menunjukan sikap baik terhadap-Nya bersesuaian dengan-Nya, segala melaksanakan perintah perintah_Nya dan menjahui dari melakukan hal hal yang dilarang-Nya.


Dan salahkanlah dirimu sendiri, yang berbuat kekejian dan ketak patuhan terhadap_Nya hal ini lebih baik, nisbahkanlah ketak adilan kepada dirimu sendiri hal ini lebih layak, waspadalah  akan keserasian dengan diri, sebab hal ini adalah musuh Allah dan musuhmu, kawan musuh Allah dan kawan musuhmu, yakin siiblis nan terlaknat.


Firman Allah. “ Adakah Allah menyiksamu, jika kamu bersyukur lagi beriman?” ( QS.4:147)

“Ini dikarenakan perbuatan-perbuatanmu sebelumnya, sesunguhnya Allah adil terhadap hamba-hamba-Nya”(QS.3:181)

“ Sesungguhnya Allah tidak mendzolimi, tapi merekalah yang mendzolimi diri mereka sendiri, “(QS.10:44)


Sumber ; kitab Futuh Al-Ghayb

Mudah mudahan bermanfaat